Sabtu, 27 Oktober 2007

Saya Harus Bisa Menjadi Seorang Pengusaha

BErapa lama Usia produktif untuk menjadi seorang penyiar?..
dynamis,aktif, dan kreatif...itu tuntutan profesinya?...
barangkali memang nggak ada batasan usia untuk menjadi seorang penyiar..., tapi
sekarang.klo pertanyaannya ..diganti berapa lama anda bisa hidup dari menjual kemam
puan menjadi seorang penyiar?
yang selama ini terjadi di sekitar saya adalah,para penyiar itu melarat ! hdup serba pas pasan.Yang lebih jarang tapi klo kurang sangat banyak!...dalam konteks ini adalah
para penyiar yng memang menggantungkan hidup hanya di satu jalan "hanya sebagai penyiar"...bergantung hidup hanya di satu kemampuan " jual suara"bukan mengembangkan kemampua.berapa banyak penyiar yng dikejar kejar orang nagih hutang?...klo siaran nggak pernah tenang karena harus terancam ditagih cicilan sepda motor yng nunggak beberapa bulan? itu blom lagi yang jatuh cinta kepada fans nya lalu minta di peristri juga ?..hahaha...penyiar rentan sekali dengan hal hal demikian!..
intinya ..saya merasa jenuh berjala di satu alinea sebagai seorang penyiar yng melarat..,sekarang saya harus berubah haluan..dan satu satunya adalah menjadi sorang pengusaha...hh..mimpi besar seorang kecil yang ingin menjadi raja dalam kehidupannya?
ini realita , ini yng sebenarnya terjadi...
salary hanya sekian ratus ribu ..nggak genap satu juta..beranak satu..dan mau beristri dua ! huahahahaa...gaya hidup selebriti nular juga !..saya memang tak kuasa menolak dan menjauh wabah selebriti ini ..bukan meniru tapi datang dengan sendirinya.
what !?...
saya harus menjadi kaya !

Rabu, 24 Oktober 2007

pernak pernik dunia penyiar radio

“Hai…selamat pagi pendengar…pagi yang cerah buat memulai aktivitas…” Suara David terdengar merdu banget menyapa pendengarnya di balik frekuensi radio 107.3 ‘Sweet FM Rock’.

Setiap pagi pendengar setia ‘Sweet FM’ akan ditemani David dengan lagu-lagu slow rock yang tengah hits. Nggak hanya menyuguhkan tembang-tembang yang disenangi pendengar tapi juga memberikan informasi yang aktual dan terkini.

Produk unggulan sebuah radio, selain lagu dan program acara adalah penyiar. Ribuan stasiun radio memulai siaran antara tahun 1950 dan 1970. Dan pada tahun 1979 radio FM mulai mengepakkan sayapnya. Radio AM pun mengalami kesulitan ketika pendengar FM melampaui AM. Karena FM penuh dengan musik dan kejernihan suara yang bagus.

Radio menjadi salah satu media komunikasi dan informasi yang banyak diminati orang karena lebih gampang untuk dicerna bila dibandingkan televisi dan media cetak. Penyiar yang lebih komunikatif, akan terasa terlibat ngobrol langsung dengan pendengarnya padahal hanya lewat udara.

Menurut David, dunia radio adalah dunia bebas untuk mengekspresikan diri. “Di sini aku bebas mengapresiasikan diri dalam menyampaikan informasi kepada banyak orang, rasanya senang bisa membuat orang bahagia dengan informasi dan lagu yang aku suguhkan,” jelas cowok yang mengaku sudah dua tahun menggeluti dunia radio ini.

Penyiar Butuh Skill

Banyak orang yang beranggapan profesi sebagai penyiar radio itu gampang banget, tinggal duduk di balik meja operator, cuap-cuap udah gitu muterin lagu. Tapi, setelah digeluti langsung, ternyata nggak segampang itu.” Dunia siaran radio itu penuh dengan tantangan, apalagi radio tempatku bekerja adalah siaran khusus untuk anak muda, makanya aku harus memiliki kemampuan untuk bisa sedekat mungkin dengan mereka”, ujar Claudia Hennie, Program Director di radio Kiss FM.

Sejalan dengan perkembangan dunia radio yang semakin berkembang dan menjual, maka banyak perubahan yang mesti terjadi, apalagi dalam program siarannya. Radio yang profesional dan komersil akan menuntut peraturan yang seragam sehingga akan tercipta sebuah format siaran yang mesti ditaati oleh penyiarnya. Misalnya saja radio “A” dengan segmentasi pendengar dewasa. Berarti program acara yang disajikan pun mesti sesuai untuk pendengar dewasa, begitu juga dengan lagu-lagunya.

Pendengar pun sudah semakin selektif, tentunya stasiun radio yang bisa memberikan acara yang menarik untuk didengarlah yang akan banyak peminatnya. Dan ini dapat menguntungkan pihak radio untuk merangkul mitra kerja yang bisa dijadikan sponsor acara. Untuk itu akan terjadi pemilihan penyiar yang punya skill lebih bagus. “Dulu aku juga punya gambaran, kalo penyiar radio itu gampang, tapi setelah aku jalani, aku mesti mengikuti pelatihan dulu sebelum resmi jadi penyiar,” ungkap Winda, salah satu penyiar ‘MOZE FM’.

Pelatihan vokal, membuat materi siaran, proses mixing dari satu lagu ke lagu yang lainnya merupakan proses awal yang mesti dijalani seorang penyiar yang ingin memiliki kualitas baik. Memiliki suara yang enak dan disukai adalah suatu keuntungan. Tapi kualitas suara dalam radio juga penting.

Kecanggihan teknologi dapat membantu kita mendapatkan kualitas suara yang enak, bahkan suara yang melengking sekalipun dapat mengembangkan suaranya sehingga menjadi menarik untuk didengar. Yang paling penting penyiar harus memiliki kemampuan efektif untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat.

Masing-masing radio mempunyai format siaran yang berbeda. Biasanya format siaran itu akan disesuaikan dengan target segmentasi pendengarnya. Dengan identitas yang berbeda tersebut maka sebuah stasiun akan tetap solid di telinga pendengar.

Sense of Music

“Enaknya di radio, kita bisa enjoy, memberikan informasi sambil mendengarkan musik,” terang Winda. Tugas penyiar bukan hanya memutarkan lagu-lagu, tapi mesti paham juga tentang jenis musik, alat musik, dan artisnya.

Pengetahuan tentang musik juga hal terpenting yang wajib dimiliki oleh seorang penyiar. Selain itu antara vokal, informasi yang akan disampaikan dan musik harus menyatu. Mesti feel the beat.

Untuk itu penyiar harus dapat meresapi semuanya sehingga ketika mengudara akan terdengar suara yang merdu penuh dengan smiling voices, intonasi yang menarik dan musik yang asyik menjadi sebuah hiburan yang memang enak untuk didengar.

Meskipun saat itu penyiar sedang membacakan info tehnologi, tapi dengan gaya bahasa yang menarik maka info tersebut akan cepat sekali diserap dan dipahami.

Keseharian Si Penyiar

Jam kerja seorang penyiar itu singkat banget. Paling lama mereka berada di box siaran selama tiga jam. Makanya banyak penyiar radio juga memiliki aktivitas lain di luar jam siaran. Misalnya masih tetap aktif kuliah.

Tapi banyak juga yang punya pekerjaan lainnya. “Berawal dari hobi dan punya waktu luang, karena aku kerja di tempat lain, masuknya siang, jadi pagi bisa siaran dulu,” ungkap Winda. Untuk penyiar yang berkecimpung di radio entertainment, mungkin tidak diperlukan keahlian akademik tertentu.

Berbeda dengan radio news atau radio talk show, kemungkinan besar radio ini akan mengutamakan status pendidikan dalam merekrut karyawannya.

Banyak juga penyiar yang sudah menamatkan pendidikan tetapi tetap terjun penuh di dunia radio. Selain siaran, mereka bisa juga merangkap tugas menjadi program director yang bertugas mengurusi bidang siaran, music director yang bertugas mengurusi bidang musik, production yang mengurusi bidang acara khusus atau recording yang mengurusi bidang rekaman.

Dunia radio pun banyak berkembang menjadi Event Organizer. Mulai dari sekedar membantu urusan promosi, sampai turun langsung menjadi panitia pelaksana. Berarti ini juga kesempatan yang dapat dimanfaatkan oleh penyiar untuk belajar membuat sebuah acara off air.

Menjadi MC atau presenter pada acara off air adalah peluang yang bagus sekali untuk seorang penyiar. Makin ngetop dan tentunya uang saku juga makin nambah dong… “Aku merasa persaingan ketat antar sesama penyiar ketika memperebutkan posisi MC ini, suka dibanding-bandingkan kemampuannya. Jadi ya…kita mesti banyak belajar lagi, untuk membuktikan kalo kita memang bagus,” jawab David.

Banyak sekali hal-hal baru yang dapat kita peroleh di dunia siaran yang erat hubungannya dengan dunia hiburan. Memang ada yang mengesankan kalau dunia radio itu dunia yang glamour. “Nggak ah…kami biasa aja, nggak ada yang wah, cuma kan tergantung orangnya, mungkin karena berhubungan dengan dunia hiburan jadi terkesan glamour,” terang Winda yang ditemui Kreasi di studionya.

Penyiar dan Fans

Salah satu yang membuat seorang penyiar bisa tetap eksis adalah penggemar. Meskipun mereka lebih dikenal lewat suara, namun nggak mengherankan kehadiran seorang penyiar mampu membuat pendengarnya tergila-gila.

Nggak jarang pendengar langsung main ke radio tersebut hanya untuk bertemu dengan penyiar favoritnya. Dan banyak pula yang pada akhirnya hubungan idola dan fans-nya ini berlanjut menjadi teman dekat atau sahabat.

Berawal dari special program curhat, dari sebuah radio. Penyiar yang bertugas membawakan acara tersebut akan dicap pendengar sebagai salah satu alternatif tempat curhat. Dan biasanya fans akan menghubungi penyiar, untuk meminta bertemu biar bisa curhat di luar jam siaran. Frekuensi bertemu yang terlalu sering bakal membuat hubungan akan berubah menjadi teman.

Tidak dapat dipungkiri juga keberadaan seorang fans sangat penting. Ada beberapa station manager mempertahankan penyiarnya yang memiliki pendengar paling banyak. “Tingkah fans beragam-ragam, yang nyebelin juga ada, dia kadang nggak ngerti kita lagi sibuk apa nggak, tapi selama belum nyusahin aku tetap berusaha nyenengin mereka,” cerita cowok yang suaranya bisa kita dengar setiap jam sembilan pagi di ‘Sweet FM’.

Buat Winda yang sudah bisa dibilang salah satu penyiar senior di radio yang memanggil pendengarnya “Indonesiana”, punya banyak penggemar, bukan berarti kita mesti tampil dibuat-buat. Nggak perlu jaim (jaga image), tampil aja apa adanya.

Meskipun tampil gaya itu memang perlu untuk mendukung penampilan seorang penyiar, tapi tetap be your self. Enak ya…jadi penyiar, tapi ingat penyiar itu bukan pekerjaan yang gampang.

Kalau kamu memang punya bakat cuap-cuap mau nyalurin bakat kenapa nggak, yang pasti kita mesti bisa membuktikan diri kita memang yang terbaik buat banyak orang. (Riana Zaiful, Waspada Online).*

source :http://semaibroadcast.wordpress.com/category/broadcast/